Senin, 09 Oktober 2017

        KAJIAN TEORI DUAL CODING

Teori dual coding yang dikemukakan Allan Paivio (Paivio, 1971, 2006) menyatakan bahwa informasi yang diterima seseorang diproses melalui salah satu dari dua channel, yaitu channel verbal seperti teks dan suara, danchannel visual (nonverbal image) seperti diagram, gambar, dan animasi. Kedua channel ini dapat berfungsi baik secara independen, secara paralel, atau juga secara terpadu bersamaan (Sadoski, Paivio, Goetz, 1991). Kedua channel informasi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Channel verbal memroses informasi secara berurutan sedangkan channel nonverbal memroses informasi secara bersamaan (sinkron) atau paralel.
Aktivitas berpikir dimulai ketika sistem sensory memory menerima rangsangan dari lingkungan, baik berupa rangsangan verbal maupun rangsangan nonverbal. Hubungan-hubungan representatif (representational connection) terbentuk untuk menemukan channel yang sesuai dengan rangsangan yang diterima. Dalam channel verbal, representasi dibentuk secara urut dan logis, sedangkan dalam channel nonverbal, representasi dibentuk secara holistik. Sebagai contoh, mata, hidung, dan mulut dapat dipandang secara terpisah, tetapi dapat juga dipandang sebagai bagian dari wajah. Representasi informasi yang diproses melalui channel verbal disebut logogen sedangkan representasi informasi yang diproses melalui channel nonverbal disebut imagen (lihat Gambar).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Paivio dan Bagget tahun 1989 dan Kozma tahun 1991, mengindikasikan bahwa dengan memilih perpaduan media yang tepat, kegiatan belajar dari seseorang dapat ditingkatkan (Beacham, 2002; Dede, 2000; Hogue, (?)). Sebagai contoh, informasi yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata (verbal) dan ilustrasi yang relevan memiliki kecenderungan lebih mudah dipelajari dan dipahami daripada informasi yang menggunakan teks saja, suara saja, perpaduan teks dan suara saja, atau ilustrasi saja.
Menurut teori Dual Coding yang dikemukakan oleh Paivio, kedua channel pemrosesan informasi tersebut tidak ada yang lebih dominan. Namun demikian, Carlson, Chandler, dan Sweller tahun 2003 dalam (Ma, (?)) telah melakukan sebuah riset untuk melihat apakah pembelajaran yang dilakukan melalui diagram atau teks akan membantu kegiatan belajar. Carlson dan kawan-kawan mengasumsikan bahwa karena diagram lebih lengkap dibandingkan teks, dan dengan diagram seseorang mampu menghubungkan antara elemen yang satu dengan yang lainnya, maka orang yang belajar melalui diagram akan lebih berprestasi dibandingkan dengan orang yang belajar dengan menggunakan teks saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk bahan belajar yang memiliki tingkat interaktivitas tinggi, kelompok yang belajar dengan menggunakan diagram memiliki prestasi lebih tinggi dibandingkan dengan yang hanya belajar dengan teks. Untuk bahan belajar yang tidak memiliki tingkat interaktivitas yang tinggi, kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan prestasi yang signifikan.
Sebagai tambahan kesimpulan dari teori dual coding ini jika dikaitkan dengan bagaimana seseorang memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan bahwa teori ini mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan cara menghubungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge). Peneliti berpendapat bahwa seorang tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama juga memiliki prior knowledge yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memiliki masa kerja lebih pendek, sehingga dapat diharapkan bahwa para tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama akan lebih mudah memahami informasi baru yang disampaikan.
Teori Dual Coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal dan nonverbal (Najjar, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa media maka kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal) dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.

Referensi
Beacham, N.A., Elliott, A.C, Alty, J.L., Al-Sharrah, A. Media Combinations and Learning Styles: A Dual Coding Approach. Association for the Advancement of Computing in Education (AACE), 2002.
Dede, Chris. \\\\\\\"Using Multiple Interactive Media to Enable Effective Teaching & Learning\\\\\\\". FETConnections, 2000. (http://www.fetc.org/fetcon/2000-February/multiple.html)
Hogue, Mike. \\\\\\\"Media Selection\\\\\\\".   (http://www.umdnj.edu/meg/legacy/hogue_mediaselection.htm).
Ma, Yue. \\\\\\\"Dual Coding Theory, Cognitive Load theory, and Their Applications in Computer Based Multimedia Design\\\\\\\". Northern Illinois University, (?) (http://cedu.niu.edu/.../642_materials/642_lit_review/ETT642_Ma_Literature.pdf)
Najjar, L.J. \\\\\\\"A Review of the Fundamental Effects of Multimedia Information Presentation on Learning\\\\\\\". Atlanta: School of Psychology and Graphic, Visualization, and Usability Laboratory, Georgia Institute of Technoloy, Atlanta. 1995. (http://www.cc.gatech.edu/gvu/reports/TechReports95.html)
Paivio, Allan. Imagery and Verbal Processes. New York: Holt, Rinehart & Winston, 1971.
Paivio, Allan. \\\\\\\"Dual Coding Theory and Education\\\\\\\" (Draft chafter for the Conference on \\\\\\\"Pathways to Literacy Achievement for High Poverty Children\\\\\\\", The University of Michigan School of Education, 2006.
Sadoski, M., Paivio, A., Goetz, E.  Commentary: A Critique of Schema Theory in Reading and Dual Coding Alternative. Reading Research Quarterly, 26(4), 1991.

18 komentar:

  1. kak, mw tanya kak.bagaimana memaksimalkan dual coding siswa dengan media?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih uji,
      Begini fauzi Ada 3 proses yang berlangsung saat seseorang menerima 2 bentuk informasi (verbal dan visual), dalam waktu yang sama, yaitu: 1) membuat gambaran verbal serta kesesuaian dengan informasi verbal yang diterima; 2) membuat gambaran visual serta kesesuaian dengan informasi visual yang diterima; dan 3) membuat kesesuaian hubungan antara gambaran visual dengan gambaran verbal yang sudah diterima.
      Dengan pertimbangan diatas maka kita dapat memaksimalkan dual codinv siswa dengan media

      Hapus
  2. Mbak lulu, saya mau tanya, media yg seperti apa sih yang terbaik untuk mengajarkan materi integral dengan memanfaatkan teori dual coding ini? kan integral itu sulit. trimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih kak...
      Kalau menurut saya media yg berbasis audio_visual yg lebih baik dalam penerapan media pembelajaran materi integral yg memanfaatkan teori dual coding ini.

      Hapus
  3. Menurut lulu, apakah teori dual coding ini perlu digunakan dalam setiap membuat media pembelajaran khususnya pelajaran matematika?

    BalasHapus
    Balasan
    1. izin menanggapi menurut saya semuanya perlu berlandaskan teory dual coding ini karena kita dapat menciptakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan dengan melibatkan berbagai kemampuan dari individu sendiri

      Hapus
    2. Terima kasih sutrimo atas tanggapannya...
      Saya setuju sekali dengan tanggapan sutrimo,
      Mungkin sudah dijelaskan dengan jelas kk.us jawabannya
      Trima kasih

      Hapus
  4. mbak lulu... bagaimana menurut mbk lulu dalam pembuatan media pembelajaran matematika... yang seperti apakah media yang baik itu? apakah harus menyesuaikan dengan teori yang ada? atau berorientasi dengan tujuan pembelajaran?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau menurut saya, pembuatan media pembelajaran matematika yang baik itu adalah yang bisa menyeimbangkan teori yang ada dengan tujuan pembelajarannya. terimakaish

      Hapus
    2. Terima kasih tita sudah menambahkan,
      Memang benar kk nung dalam pembuatan media pembelajaran harus menyeimbangkan teori yang ada sesuai dengan tujuan pembelajarannya.

      Hapus
  5. Mbak lulu, dual coding kan hanya menggunakan dua channel, yaitu visual dan audio, lalu bagaimana dgn kinestetik nya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk kinestetiknya kita bisa kombinasikan teori belajar yang lainnya

      Hapus
  6. Kak, Apa bedanya teknologi informasi dengan sistem teknologi?dan apa kontribusi teknologi dalam kehidupan masyarakat?

    BalasHapus
    Balasan
    1. perbedaan antara Teknologi Informasi dengan Sistem Informasi yaitu Sistem informasi mencangkup seluruh sistem didalam perusahaan secara keseluruhan termasuk teknologi informasi,akuntansi, manajemen, dll di dalamnya, sedangkan teknologi informasi ada untuk membantu/menunjang kegiatan sistem informasi, diantaranya pembuatan hardware, software, network, database, dll.
      Semoga bermanfaat ^_^

      Hapus
  7. izin bertanya, bagaimanakah penerapan teory dual coding pada sekolah SLB sekolah luar biasa???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penerapan teori dual coding di SLB sama saja,
      Karena di SLB pun peserta didik mempunyai gaya belajar yang beragam,
      Sehingga penerapan teory belajar juga harus seimbang melihat keadaan dan tujuan pembelajaran

      Hapus
  8. assalamualaikum kk lulu
    menurut kk untuk membuat media pembelajaran sesuai dengan teory dual coding ini efektif untuk di kelas?

    BalasHapus
  9. Wa'alaikumsalam,
    Menurut saya kurang efektif,
    Karena didalam kelas itu beragam macam gaya belajarnya,
    Sehingga yang efektif menurut saya adalah media yang mengkobinasikan semua teori tidak hanya terfokus teory dual coding saja

    BalasHapus